Kamis, Mei 19, 2022
BerandaArtikelApakah Mengutip Atau Mengambil Berita Dari Media Lain Adalah Plagiarisme? Simak penjelasannya.

Apakah Mengutip Atau Mengambil Berita Dari Media Lain Adalah Plagiarisme? Simak penjelasannya.

Karlotapost-Artikel- Akhir-akhir ini media online (media Sieber, media daring, situs berita) terus bermunculan. Munculnya begitu banyak media baru ini, memunculkan persaingan yang ketat dalam memuat sebuah berita. Tidak sedikit darinya yang melakukan “copas” atau “salin” dalam penulisan konten beritanya. Bahkan beberapa media arus utama pun sering mengutip berita dari media lain.

Lantas bagaimana aturan soal mengutip atau mengambil berita ini? Apakah melanggar Hak Cipta? Soal mengutip berita, Pasal 14 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dengan jelas menyebutkan:

Ilustrasi Foto : kanonangdua.sideka.id

“Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta apabila pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, atau surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap”.

Ini berarti jikalau Anda mengutip tulisan atau karya orang lain dengan disebutkan sumbernya secara lengkap maka tindakan yang Anda lakukan tidak melanggar hukum. Nah, itu dia aturannya. Intinya, mengutip dengan menyebutkan sumber bukan pelanggaran hak cipta, bukan pula plagiarisme atau plagiat. Sebaliknya, jika tidak menyebutkan sumber, maka itu plagiarisme dan pelanggaran hak cipta.

Etika mengutip berita media lain pernah dijelaskan mantan anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo. Ia mengatakan sebagimana dilansir dari komunikasipraktis.com pemberitaan suatu media dimungkinkan untuk mengutip berita media lain.

“Pengutipan berita media lain bukan suatu pelanggaran dan juga bukan sesuatu yang memalukan,” jelas Agus.
Demikian juga media-media nasional sering juga mengutip media daerah untuk masalah yang muncul di daerah. Media-media nasional atau lokal juga biasa mengutip berita media-media internasional.

“Tidak ada pelanggaran etika jurnalistik dalam hal ini, sejauh media yang mengutip memberikan creditpoint kepada media yang dikutip dengan menyebutkan nama media tersebut dalam kutipan berita. Akan lebih baik lagi jika sekaligus disebutkan nama jurnalis yang menulis berita,” jelasnya lagi.

Bagaimana menghindari plagiasi?

Bagaimana menghindari plagiasi

Jika kamu bertanya bagaimana cara menghindari plagiasi? Tentu tidak lepas dari orisinal konten yang ditulis. Guna menghindari kesan plagiasi, lanjut Agus, semestinya berita hasil kutipan tidak sama persis atau mirip-mirip dengan berita pertama yang dikutip.

Oleh karena itu, berita hasil kutipan perlu dikembangkan lebih lanjut dengan mewawancarai sumber yang lain serta dengan menambahkan data dan informasi baru.

“Tudingan plagiasi ini sering muncul karena berita pertama yang dikutip dengan berita kedua yang mengutip hampir sama persis. Parahnya lagi, media kedua tidak secara jujur menjelaskan kepada pembaca, pendengar atau pemirsa telah mengutip media lain,” sambung Agus.Dalam kode etik jurnalistik, soal kutip-mengutip berita ini dijelaskan di Pasal 2: “Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.”

Penjelasan: wartawan tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri; Dalam kode etik jurnalistik lama versi PWI disebutkan: “Dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu suratkabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi.”

Artikel ini sudah terbit sejak 2019 di https://www.komunikasipraktis.com/2019/07/aturan-kutip-mengutip-berita.html?m=0

RELATED ARTICLES

1 KOMENTAR

Komentar ditutup.

Most Popular