KARLOTAPOS-Artikel- Asbabun Nuzul Surah Al Baqarah Ayat 89. Asbābun Nuzūl atau Sebab-sebab turunnya (suatu ayat) adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan.

Umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah di balik kisah diturunkannya suatu ayat.

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah Ayat 89
Foto : Screenshot myquranina.com

Surah Al-Baqarah Ayat 89


وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ – 2:89

Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar. (al-Baqarah/2: 89)

3 Hasan; diriwayatkan oleh al-Wàhidiy, aí-Tabràniy, Ibnu Abì Hàtim, dan Ibnul Munžir, semua dari jalur Ibnu Ishàq dari Muhammad bin Abù Muhammad dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbàs. Al-Wàhidiy juga menyebutkan riwayat lain dari jalan Juwaibir dari ad-Dahhàk dari Ibnu ‘Abbàs dengan redaksi yang sedikit berbeda.

Ibnu Hajar menyatakan, “Riwayat pertama lebih kuat daripada riwayat ad-Dahhàk, karena Juwaibir amat lemah hafalannya (da‘ìf jiddan) dan ad-Dahhàk pun tidak pernah mendengar riwayat dari Ibnu ‘Abbàs. Lihat: ‘Aliy bin Ahmad al-Wàhidiy, Asbàb Nuzùl al-Qur’àn, (Beirut: Dàr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1991), hlm. 29–30; Sulaimàn bin Ahmad at-Tabràniy, al-Mu‘jam al-Kabìr, (Kairo: Maktabah Ibni Taimiyah, t.th), juz 11, hlm. 96, hadis nomor 11160; Ahmad bin ‘Aliy bin Muhammad bin Hajar al-‘Asqalàniy, al-‘Ujab fì Bayàn al-Asbàb, (Beirut: Dàr Ibni Èazm, cet. 1, 2002), hlm. 103–104.

Terkait:  Cerita Buqi Buqingale Part II

Sebab Nuzul

Kerasulan Muhammad sallallàhu ‘alaihi wasallam adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum Yahudi, namun ketika Nabi Muhammad diutus, mereka malah mengingkarinya karena Muhammad berasal dari bangsa Arab, bukan dari bangsa Yahudi. Itulah sebab nuzul ayat di atas.



عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ يَهُوْدَ كَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ مَبْعَثِهِ. فَلَمَّا بَعَثَهُ اللهُ مِنَ الْعَرَبِ كَفَرُوْا بِهِ وَجَحَدُوْا مَا كَانُوْا يَقُوْلُوْنَ فِيْهِ. فَقَالَ لَهُمْ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَبِشْرُ بْنُ الْبَرَّاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ أَخُوْ بَنِيْ سَلِمَةَ: يَا مَعْشَرَ يَهُوْدَ، اِتَّقُوا اللهَ وَأَسْلِمُوْا، فَقَدْ كُنْتُمْ تَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَيْنَا بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَنَحْنُ أَهْلُ شِرْكٍ، وَتُخْبِرُوْنَنَا أَنَّهُ مَبْعُوْثُ وَتَصِفُوْنَهُ لَنَا بِصِفَتِهِ. فَقَالَ سَلَامُ بْنُ مِشْكَمٍ أَخُوْ بَنِيْ النَّضِيْرِ: مَا جَاءَنَا بِشَيْءٍ نَعْرِفُهُ، وَمَا هُوَ بِالَّذِيْ كُنَّا نَذْكُرُ لَكُمْ. فَأَنْزَلَ اللهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ فِيْ ذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِ:(وَلَمَّا جَاءَهُمْ …).4

Ibnu ‘Abbàs bercerita bahwa sebelum Rasulullah sallallàhu ‘alaihi wasallam diutus, kaum Yahudi selalu menjadikan harapan diutusnya beliau sebagai pelecut semangat mereka untuk mengalahkan Suku Aus dan Khazraj. Akan tetapi, begitu Allah mengutus beliau sebagai rasul dari bangsa Arab—bukan dari bangsa Yahudi seperti yang mereka harapkan—mereka pun mengingkarinya dan mengingkari apa yang dulu mereka katakan. Mu‘àž

Catatan kaki

4 Hasan; disebutkan oleh at-Tabariy, Ibnu Abì Hàtim, al-Baihaqiy, dan Ibnu Kašìr dari jalur Ibnu Ishàq dari Muhammad bin Abì Muhammad dari Sa‘ìd bin Jubair atau ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbàs. Riwayat ini memang daif, namun ia memiliki banyak syawàhid (penguat) seperti disebutkan at-Tabariy. Syawàhid ini tidak berkaitan langsung dengan sebab turunnya ayat, melainkan dengan makna sebagian ungkapannya. Ibnu Hajar dalam al-‘Ujàb mengisyaratkan bahwa riwayat Ibnu Ishàq ini lebih kuat daripada riwayat-riwayat lainnya.

Terkait:  Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu Part I

Ibnu Ishàq sendiri dalam Sìrah-nya meriwayatkan makna yang sama dari jalur ‘Àsim bin ‘Amr dengan ungkapan haddašanì (telah bercerita kepadaku). Až-Žahabiy dalam al-Mìzàn menyatakan, “Bila Ibnu Ishàq menyebutkan sebuah riwayat dengan ungkapan haddašanì maka hadisnya dinilai hasan.” Penilaian yang sama dikemukakan Abù ‘Umar Nàdì. Lihat: at-Tabariy, Jàmi‘ al-Bayàn, juz 2, hlm. 237–238, ‘Abdurrahmàn bin Abì Hàtim ar-Ràziy, Tafsìr al-Qur’àn al-‘Azìm, (Mekah: Maktabah Nizàr Mustafà al-Bàz, cet. 1, 1997), juz 1, hlm. 172, hadis nomor 905; Ahmad bin Husain al-Baihaqiy, Dalà’il an-Nubuwwah (Beirut: Dàr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1988), juz 2, hlm. 76; Ibnu Kašìr, Tafsìr al-Qur’àn al-‘Azìm, juz 1, hlm. 337. Lihat pula: Ibnu Hajar, al-‘Ujab fì Bayàn al-Asbàb, hlm. 118; Abù ‘Umar Nàdì, al-Maqbùl min Asbàb an-Nuzùl, hal. 64.

bin Jabal dan Bisyr bin Barrà’ bin Ma‘mar yang merupakan saudara Bani Salimah—salah satu klan dari suku Aus—berkata, “Wahai kaum Yahudi, takutlah kepada Allah dan masuklah ke dalam agama Islam! Dulu kalian minta kemenangan atas kami dengan wasilah pengutusan Muhammad; ketika itu kami adalah kaum musyrik. Kalian selalu memberitahu kami bahwa ia adalah nabi yang akan diutus. Kalian pun menuturkan kepada kami sifat-sifatnya.” Salam bin Misykam, yang berasal dari Bani Nadìr—salah satu klan dalam komunitas Yahudi—menjawab, “Ia (Muhammad) tidak mendatangi kami dengan membawa apa yang kami ketahui. Ia bukanlah orang yang telah kami ceritakan kepada kalian.” Allah lalu menu-unkan firman-Nya, walammà jà’ahum ….

Terkait:  12 Bisnis Rumahan yang Trend untuk Pemula 2022 - Updated!

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa kaum Ansàr berkata, “Demi Allah, ayat ini turun mengenai kami (Aus dan Khazraj) dan tetangga kami (Yahudi).”5

Sumber: myquranina.com