Jumat, Desember 2, 2022
spot_img
More

    Orang Paling Cari

    Cerita Buqi Buqingale Part II

    KARLOTAPOS-Artikel- Cerita Buqi Buqingale sambungan tidak terasa olehnya setelah berapa tahun menjadilah pemuda itu seorang lelaki kekar berisi, tubuhnya tumbuh besar, dan Otot-ototnya menggelembung.

    Di pantai itu tidak ada orang lain kecuali ia sendiri dengan mulai mengembara yang dimulainya dari timur, ke barat, utara, dan selatan.

    Setelah puas mengembara ia kembali lagi ke tempat semula kadang-kadang dalam pengembaraannya pemuda tersebut memburu binatang hutan untuk dimakan, Ia juga menemukan berbagai macam buah-buahan yang bisa dikonsumsi.

    Pengetahuan dan pengalamannya semakin hari kian bertambah setelah lama ditinggal di tempat asalnya pemuda itu mulai berpikir ” lebih baik kujalani seluruh dataran dan gunung-gunung ini agar menjadi jelas bagiku semuanya dengan demikian aku akan mendapat tempat tinggal yang lebih baik” gumamnya.

    Lalu berjalanlah ia meninggalkan tempat kejadiannya di Boliohuto, mula-mula pemuda itu menuju matahari terbit melalui kaki gunung, tidak beberapa lama berjalan sampailah di suatu tempat yang sangat luas dan indah pemandangannya tempat itulah yang disebut “Tapalu” sekarang ini.

    Cerita Buqi Buqingale
    Ilustrasi Foto : Pixabay

    Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat sebuah sungai yang jernih airnya menurutnya tempat itu baik sekali untuk dijadikan tempat tinggal, lalu ia mencari satu tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh dan tibalah pemuda itu pada sebuah sumur.

    Sumur berbentuk goa baik sekali dijadikan tempat tinggal dan berteduh pada waktu siang dan malam. Ia mengatur tempat itu sehingga benar-benar menjadi tempat yang layak untuk dihuni dan goa yang ditemukan menjadi istananya dalam hutan sedangkan sungai di dekat tempat itu disebut sungai “Bionga”.

    Terkait:  6 alasan mengapa suatu perusahaan harus menggunakan jasa freelancer

    Rupanya sang pemuda tidak betah tinggal di tempat itu berlama-lama pada suatu hari keluarlah ia dari tempat tinggalnya untuk mencari nafkah ke tempat yang lain.

    Saat di perjalanan tiba-tiba ia terdengar suara yang sayup-sayup suara itu berbunyi ” teruslah perjalananmu ke depan wahai pemuda” Ia pun terkejut dengan suara itu disangkanya ada makhluk lain yang sedang mengikutinya.

    Tanpa berpikir panjang ia mengikuti anjuran suara tersebut dan berjalanlah dia ke depan, sesampailah di sana terdapat sebuah sumur yang harum, sumur itu merupakan tempat mandi yang indah berbentuk kolam kecil sang pemuda pun tertarik dengan kolam itu.

    Ketika diperhatikan ternyata di sekitar sumur ada bekas kaki manusia seperti dia sontak Ia berpikir dan bertanya-tanya ” kaki manusia dari manakah ini? tidak ada orang lain di kawasan ini kecuali aku” kata pemuda tersebut.

    Sang pemuda berkeinginan mengetahui tapak kaki itu ” lebih baik aku menjaga kolam ini akan ku intip siapa yang selalu datang ke tempat ini” tinggallah Ia di situ dan membuat persembunyian untuk mengintai makhluk yang mempunyai bekas tapak kaki manusia.

    Keesokan harinya datanglah 7 orang gadis dari kayangan ke sumur dan mereka segera meninggalkan sayap lalu mandi di dalam kolam yang sangat bersih airnya terjun lah mereka ke dalam kolam sambil bersukaria air pun bergelombang dan terpercik ke atas karena terkena pukulan tangan dan kaki mereka.

    Terkait:  Tips Membuat Proposal Kerja Praktek Agar diterima di Perusahaan Bonafit

    Setelah mereka merasa senang mandi dan bermain di kolam mereka pun naik ke tepi menggunakan kembali sayap masing-masing kemudian terbang kembali ke kayangan.

    Pemandangan yang indah itu terlihat dengan jelas oleh pemuda yang bersembunyi dibalik pepohonan seluruh tubuh gadis-gadis itu terpandang olehnya kini jelaslah baginya bahwa kaki yang membekas di pinggir kolam tersebut adalah bekas kaki dari gadis-gadis kayangan.

    Timbul satu pikiran dalam benak sang pemuda ” alangkah baiknya kalau aku memperoleh salah seorang dari tujuh gadis itu”

    Sumber

    Artikel ini diambil dari Buku, Cerita Rakyat Kepalawanan Gorontalo. Oleh Dr. Nanti Tuloli – STIKIP GORONTALO – 1993.

    Next Part III

    Latest Posts

    Jangan Lewatkan