Kamis, Mei 19, 2022
BerandaArtikelCerita Perang Panipi Full Part Dari Bukunya Dr. Nani Tuloli

Cerita Perang Panipi Full Part Dari Bukunya Dr. Nani Tuloli

Cerita Rakyat Kepahlawanan Gorontalo Perang Panipi Full
Cerita Rakyat Kepahlawanan Gorontalo Perang Panipi Full

Karlotapost-Artikel- Pada masa penjajahan Belanda rakyat di daerah Gorontalo sangat menderita, rakyat menjadi miskin serta selalu ditindas oleh kaki tangan penjajah. Bekerja untuk kepentingan penjajah sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mencari nafkah bagi keluarga kalau ada yang mempunyai kebun sawah dan ternak penjajah tidak segan-segan mengambil sebagian besar hasilnya dengan alasan pajak. 

Tua dan muda, besar kecil merasakan penderitaan masa itu kesusahan seperti itu bukan hanya dialami oleh rakyat tetapi juga oleh raja dan keluarga raja orang yang dulunya kaya telah menjadi miskin, bahkan kehilangan harta sama sekali walaupun keadaan itu makin menekan hati raja dan rakyat. Namun tidak ada yang berani menantang, mereka takut disiksa dan dipukul oleh serdadu penjajah yang sangat menyakitkan pula hati mereka ialah orang-orang sesuku yang bermuka dua, pura-pura membela rakyat padahal merekalah yang suka melaporkan yang buruk buruk kepada penjajah, orang-orang itu suka menjilat kepada pemerintah penjajah dan juga menjadi kaki tangan penjajah untuk memungut pajak dengan secara paksa. 

Polahi

Situasi yang buruk itu semakin lama makin bertambah, rakyat pun makin lama makin bertambah miskin badan menjadi kurus, berjalan terhuyung-huyung selalu terbayang penyiksaan yang sewaktu-waktu akan menimpa, ada  yang mulai putus asa dan membiarkan kehidupannya terlunta-lunta sehingga akhirnya mati kelaparan, sebagian pula lari ke hutan-hutan dan ke puncak puncak gunung Tilongkabila dan Buliohuto. 

Mereka itulah yang disebut POLAHI atau pelarian ketika derita tidak tertahankan lagi, muncullah seorang pemuda yang bernama Panipi, ia adalah anak raja Batudaa pada suatu hari ia melihat, rakyat yang disiksa oleh kaki tangan penjajah untuk membayar pajak hasil jerih payah mereka di kebun dan sawah dirampas oleh kaki tangan penjajah itu. Orang-orang yang mau mempertahankan hak milik, mereka pukul ditendang dan bahkan diikat lalu dibawa ke penjara.

Iba hati pemuda itu melihat perlakuan kaki tangan penjajah kepada rakyat. Kebenciannya memuncak ketika orang Belanda memaksa keluarganya membayar pajak. Namun teman-temannya mereka sepakat untuk menghasut rakyat menentang pemerintah penjajah pada waktu itu, dengan teman-temannya mengatakan kepada rakyat bahwa mereka telah cukup menderita orang Belanda dan kaki tangannya hidup dalam keadaan mewah, mendengar hasutan itu rakyat sepakat untuk tidak membayar pajak dan menentang penjajah. 

Diangkat menjadi pemimpin rakyat petugas-petugas pajak diusir, oleh pemuda dari desa-desa, pemerintah Belanda di Gorontalo mendengar hal itu, dari kaki tangannya petugas lain untuk memungut pajak rakyat terutama pemuda telah siap dengan senjata untuk mengusir mereka. Panipi dipanggil menghadap kepada pemerintah kota Panipi menolak dan berkata “Aku bukan budak orang Belanda” katanya. Kepala pemerintahan menjadi marah dan kaget kaget mendengar kata-kata yang menantang dari Panipi itu. Ada rakyat yang berani menentang penjajah.

Sumber

Pemerintah penjajah pun memerintahkan Polisi Belanda untuk menangkap orang-orang yang membangkan, banyak orang tua yang di bawa ke kantor Desa yang telah dikuasi Belanda, mereka semua dipaksa untuk membayar pajak atau semua harta mereka akan dirampas.  Panipi yang mendengar akan hal itu segera mendatangai kantor desa tersebut, ia datang dengan beberapa pemuda, didapatinya orang desa itu sudah di bawa ke kota untuk ditahan, Panipi mendengar berita tersebut dari warga sekitar kantor desa, bahwa warga yang ditahan itu mendapatkan kekerasan, bahkan luka tusukan pedang. 

Panipi menjadi geram lalu ia menyatakan kepada para pemuda agar bersiap untuk berperang dengan penjajah, mereka membentuk pasukan disuatu tempat yang disebut BUA. di Bua Panipi dan teman-temannya mengumpulkan rakyat yang berani menentang Belanda, dan banyak pumuda bergabung dengan perlawanan itu, ada yang datang dari desa sekitar, Limboto, Suwawa, Isimu, dan juga dari kota Gorontalo. 

Mereka semua hanya bersenjatakan pedang, kris, pisau, tombak dan kayu pemukul, menyadari adanya bahaya tantangan rakyat, pemerintah Belanda di Gorontalo minta kepada raja Batudaa, yaitu ayah Panipi agar membujuk anaknya, namun permintaan itu ditolak oleh Raja Batudaa. Ia tidak mau menghalangi anaknya karena, ia berpihak pada rakyat yang menderita. Kepala pemerintahan memerintahkan beberapa Polisi Belanda untuk menangkap Panipi, namun mereka mendapatkan perlawanan dari para pemuda, beberapa anggota Polisi Belanda kembali dan yang lainnya mati.

Beberapa kali Polisi dan Tentara Belanda berusaha menangkap dan membunuh Panipi mengalami kegagalan, rakyat sudah mengangkat senjata dan Paninpi telah menyatakan perang melawan penajajah. Suatu hari mengirim pasukan yang banyak ke Desa Bua, sebelum mereka tiba disana, Panipi telah mendapat berita dari kurirnya yang dipasang sepanjang jalan dari kota ke Bua. Ia pun segera memerintahkan semua pemuda untuk bertahan dan melawan sampai titik darah terakhir. Panipi memberi semangat kepada teman-temannya dengan mengatakan ” kita harus berani melawan penajajah yang telah melaratkan kita semua. Laki-laki atau pun perempuan harus berani menantang maut kalau tidak ingin diperkosa terus menerus oleh penjajah dan anak buahnya”.  

Perang Pertama di Desa Bua

Rakyat yang  mengikuti Panipi terus bertambah banyak dan siap untuk berperang, walaupun mereka menyadari bahwa persenjataan mereka hanya tradisional, ketika Polisi dan Tentara Belanda sampai ke Bua terjadilah perang yang hebat disana, itulah perang pertama di Bua. Rakyat Panipi berjuang dengan penuh semangat laki-laki pun perempuan memegang keris menusuk atau menetak setiap Polisi dan Tentara Belanda yang berani memasuki benteng mereka, setelah beberapa hari berperang dan sambil intai mengintai, akhirnya Polisi Belanda kembali dengan tangan hampa, banyak dari mereka mati terbunuh, baik dalam perang tanding atau pun karena jebakan yang dibuat oleh Panipi dan kawan-kawannya. 

Jebakan itu disebut TIU-TIU, yaitu lubang yang mempunyai tombak dari dalam, siapa yang masuk ke dalamnya akan tertusuk tombak tersebut, Belanda kebingungan menghadapi Panipi, mereka berusaha mencari siasat untuk melawannya mereka mengajak Panipi untuk berunding, dan alasan Belanda untuk berunding ialah agar tidak terjadi korban pada rakyat yang berperang. 

Mereka juga menyatakan bahwa Panipi tidak akan ditangkap, pada dasarnya Panipi merupakan orang yang suka bermusyawarah akhirnya datang kepada kepala pemerintah penjajah di kota, Panipi ditemani oleh kawan kawan dekatnya, rupanya mereka tidak menyadari siasat busuk penjajah, ketika mereka sudah sampai dan berhadapan langusng dengan kepala pemerintah penjajah maka Polisi dan Tentara Belanda, dengan segera menyerang dan menangkap mereka. Panipi membuat perlawanan namun tidak dapat melindungi teman-temannya akhirnya ia pun menyerah Panipi dengan teman-temannya dibuang ke Makassar atau Ujung Pandang.

Tidak berlangsung lama Panipi dan kawan-kawannya segera kembali ke Gorontalo mereka pulang tidak memakai kapal, tetapi berjalan kaki melalui hutan-hutan, pengembaraan mereka sangat jauh berbahaya dan menghabiskan tenaga, mereka berjalan siang dan malam sambil bersembunyi dari pengintaian Polisi dan Tentara Belanda. Makanan mereka hanyalah daun atau buah-buahan yang diperoleh dalam hutan, dengan semangat dan ketabahan hati akhirnya sampailah mereka di Gorontalo, rakyat yang mendengar bahwa Panipi telah pulang ke Batudaa datang bergabung lagi, dan Panipi memimpin kembali satu pasukan seperti dulu dan bersumpah setia untuk berjuang melawan penjajah lagi. 

Laki-laki dan perempuan semua membawa senjata apa saja yang ada pada mereka, Panipi lagi dan lagi menyatakan perang kepada pemerintah penjajah di Gorontalo, saat Belanda mendengar bahwa Panipi telah kembali dan membentuk pasukan perlawanan, maka mereka pun datang menyerang, Pasukan Belanda membawa bedil dan senapan sedangakan Panipi dengan pasukannya hanya bersenjata pedang, Kris, pisau, tombak dan pemukul. Mereka membiarkan pasukan Belanda masuk langsung ke dalam benteng setelah pasukan Belanda berada di dalam benteng barulah mereka menyerang dengan tiba-tiba dari jarak yang dekat, pasukan Belanda terkejut dan kacau, mereka tidak sempat menembakkan peluru dan terpaksa melayani dengan pedang pula. 

Panipi dengan teman-temannya yang lebih menguasai medan menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Tentara dan Polisi Belanda terjadilah perkelahian dan saling tusuk menusuk, karena pasukan Panipi sangat berani dan bersemangat maka dengan demikian pasukan Belanda dikalahkan. Sebagian di tinggalkan tergeletak mandi darah, dan yang lainnya lari menyelamatkan diri pemerintah penjajah yang terus menelan kekalahan itu, berusaha mencari siasat lagi Belanda menangkapi teman-teman dan keluarga Panipi, mereka dijadikan tawanan penjajah dengan maksud agar Panipi bersedia menyerah. 

Panipi diminta lagi bermusyawarah oleh Belanda dia diperkenankan mengajukan kemauannya tetapi musyawarah itu belum selesai ia ditangkap, Belanda mengatakan kalau ia tidak menyerah maka semua teman dan keluarganya akan ditangkap dan diasingkan Panipi sangat sayang kepada teman-teman dan keluarganya, ia pun menyerah dan dibuang ke Ternate ia dikawal oleh pasukan Belanda yang garang, Panipi dibawa dengan perahu layar yang besar ia tidak dipenjarakan di Ternate tetapi diberikan kepada Raja Ternate. 

Ketertarikan Raja Tarnate Pada Kepribadian Panipi

Raja Ternate  sangat tertarik kepada Panipi karena ketaatannya beribadah sebagai orang yang beragama Islam tingkah lakunya yang sopan santun menyebabkan ia sangat disukai oleh orang-orang di Ternate, Panipi tidak suka mencari perkara terutama dengan rakyat Ternate, tetapi kalau terjadi perkara antara polisi Belanda dengan rakyat, maka ia dengan segera membela rakyat dalam perkelahian dengan orang Belanda atau kaki tangan Belanda. Panipi selalu menang ia sangat berani menghadapi kaum penjajah di manapun  berada, tidak takut dengan senjata api karena Panipi kebal dengan peluru, tidak lama di Ternate ia pun kembali ke Gorontalo, rakyat Ternate yang sayang kepadanya membantunya dengan perahu layar kembali ke tumpah darahnya, tentara Belanda tidak mengetahui keberangkatan Panipi, setelah mengarungi lautan yang lebar dan dalam antara Ternate dan Sulawesi akhirnya mendaratlah Panipi di Pantai Batudaa dan disambut gembira oleh rakyatnya.  

Teman-teman Panitia yang masih ada, datang mengunjunginya mereka berembuk lagi untuk meneruskan perang melawan penjajah, rupanya penderitaan di tempat pengasingan bukan menjadikan ia jera malah semakin membakar semangatnya untuk memperjuangkan nasib rakyatnya. Mereka membuat lagi pasukan yang terdiri dari sisa-sisa pasukan lama dan ditambah dengan pemuda yang datang dari tempat lain, mereka juga melatih pasukan itu dengan cara-cara berperang dan membela diri, semua anak buahnya dilatih bermain silat atau LANGGA, semangat pemuda juga dibina agar kuat dan tangguh menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata senapan dan bedil di antara pasukan itu ada pula yang mempunyai senapan dan bedil sisa senjata yang ditinggalkan oleh pasukan Belanda pada perang yang lalu. 

Kedatangan Panipi tercium oleh mata-mata Belanda mereka segera melaporkan kepada kepala pemerintahan penjajah di Gorontalo, penjajah juga telah mendengar bahwa panipi sedang menghimpun kekuatan untuk melawan lagi penjajah, hal itu menimbulkan lagi kemarahan kepala pemerintah Belanda di Gorontalo ingin menumpas kegiatan perlawanan Panipi sampai ke akar-akarnya. Beberapa siasat dijalankan oleh penjajah keluarga Panipi ditangkap dan dipenjarakan, ada pula yang diasingkan namun Panipi tidak mau menyerah pasukan Belanda yang dikirim untuk menangkap Panipi selalu mengalami kegagalan bahkan mati terbunuh, rakyat sangat merahasiakan di mana Panipi berada setelah semua siasat Belanda mengalami kegagalan maka akhirnya mereka mengirim 1 pasukan yang dipimpin langsung oleh seorang Kapten suku Gorontalo kapten itu sudah berpengalaman dalam berbagai perang dan juga termasuk kebal peluru dan senjata tajam. 

Terjadilah perang besar ketiga di Bua banyak tentara kedua belah pihak yang mati bergelimang darah Panipi telah membunuh banyak tentara penjajah sebaliknya Kapten itupun telah membunuh anggota Panipi, setelah pertempuran berlangsung lama maka tinggallah Panipi berhadapan dengan Kapten itu mereka menunggang kuda dan Panipi berkata dengan nada ejekan kepada kapten itu ” lebih baik engkau pulanglah saja ke kota engkau tidak akan mampu menangkap ku dalam keadaan hidup” ucap Panipi, kapten itu membalas dengan ejekan pula ”  perlihatkanlah semua keahlianmu marilah kita bertanding dengan keris di tangan biarkanlah keris kita yang akan menentukan” kata Kapten kepada Panipi. 

Sambil tertawa terbahak-bahak kedua tokoh itupun bertempurlah dengan keris mereka, seperti hanya bermain-main saja dengan senjata terjadilah tusuk menusuk, tetak-menetak, tendang menendang, perang tanding telah berlangsung lama namun belum ada yang kalah. Hari pun telah mulai petang kedua tokoh itu mulai merasa letih setelah sekian lama berperang di atas kuda seperti dikomando keduanya melompat dari kuda masing-masing, mereka bertempur sambil mengandalkan kelincahan kekebalan dan keberanian pada waktu mulai gelap kedua tokoh itu berseru dengan sekeras-kerasnya, suara mereka menggema laksana suara dua raksasa yang sedang bertempur di angkasa ajal telah tiba untuk kedua tokoh yang bertentangan itu. 

Panipi menusuk sambil berseru demikian pula kapten itu menusuk dengan suarakan yang lantang akhirnya kedua tokoh itu tertusuk oleh senjata lawannya, Panipi tertusuk di dada sedangkan kapten itu tertusuk di lehernya mereka menghembuskan nafas terakhir sambil saling menatap mata ke arah masing-masing tatapan mereka mengandung keheranan kagum dan rasa tidak percaya dan tamatlah cerita kedua tokoh yang berlawanan tersebut. Perang panipi pun berakhir dengan matinya tokoh pemimpin rakyat itu, kini orang-orang tinggalah mengenang namanya yang harum dan keberaniannya menentang penjajah. Artikel ini diambil dari Buku, Cerita Rakyat Kepalawanan Gorontalo. Oleh Dr. Nanti Tuloli – STIKIP GORONTALO – 1993.

Bagian Buku Cerita Rakyat Kepahlawanan Gorontalo oleh Dr. Nani Tuloli

Bagian Buku Cerita Rakyat Kepahlawanan Gorontalo oleh Dr. Nani Tuloli
RELATED ARTICLES

Most Popular