Jumat, Desember 2, 2022
spot_img
More

    Orang Paling Cari

    Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu Part I

    KARLOTAPOS-Artikel- Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu, Kwandang adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Gorontalo Utara, letaknya di pantai utara. Pada jaman dulu tempat itu terjadi peperangan antara rakyat kwandang yang dipimpin oleh Tamuqu dan juga Olabu untuk melawan para penjajah Belanda.

    Mereka adalah anak bangsawan di tempat tersebut dan mempunyai pribadi yang sangat baik terhadap penduduk Rakyat Kwandang tua dan muda, sangat menyayangi dan segan kepada para pemuda yang gagah dan berani itu, mereka suka membela rakyat, terutama rakyat yang lemah, mereka juga terkenal berani dan mempunyai kepandaian atau kesaktian.

    Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu Part I
    Ilustrasi Foto: Pixabay


    Kedua pemuda itu selalu rukun, ke mana dan dimana saja pergi, mereka selalu bersama-sama. Asal mula perang Kwandang ialah ketika seorang laki-laki keturunan campuran Belanda-Gorontalo mengejar adik Tamuqu dan Olabu.

    Anak kecil itu tertarik dengan buah mangga yang di depan rumah orang keturunan campuran tersebut lalu adik Tamuqu dan Olabu mengambil batu dan melempar buah mangga tersebut. Malang tak dapat dikira, batu itu jatuh tepat di atap rumah laki-laki pemilik rumah terkejut, lalu lari ke luar.



    Dia melihat seorang anak kecil sedang melempari manganya tanpa berpikir panjang, pemiliknya sontak u mengejar anak kecil yang malang tersebut, sang anak lari sambil berteriak minta tolong, Ia manggil-manggil kakak-kakaknya. “Kak Tamuqu, kak Olabu. Tolong. Saya dikejar orang”.



    Anak itu jatuh berkali-kali di jalan karena berusaha kabur dari kejaran dari pemilik mangga, hingga Lututnya lecet, terkena batu dan kerikil namun orang itu tetap mengejar, teriakan sang anak terdengar oleh Tamuqu dan Olabu.

    Terkait:  6 alasan mengapa suatu perusahaan harus menggunakan jasa freelancer



    Pada waktu itu mereka sedang berbicara dengan teman mereka di halaman rumah dengan segera mereka berdua berlari kearah suara adiknya, terlihat oleh mereka adiknya sedang berlari kearah mereka dan seorang laki-laki besar sedang mengejarnya.



    Mereka menjadi kaget ketika memperhatikan keadaan adik mereka yang telah berlumuran darah, kepala, lutut, dan siku anak itu telah lecet-lecet dan darah, laki-laki besar itu mengejarnya sambil berteriak. “Tunggu, jangan lari. Walaupun lari ke mana kau anak setan, aku akan menangkap mu. Akan aku patahkan leher dan tanganmu”.



    Kakak dari anak kecil tersebut segera menghalangi lelaki besar di tengah jalan, mereka menangkap dan memeluk adik mereka dan menghadapi laki-laki tinggi besar lalu Tamuqu berkata kepada laki-laki itu: “Tunggu dulu tuan. Mengapa Tuan mengejar anak sekecil ini? Lihat badannya telah penuh luka. Apa yang telah diperbuat oleh anak ini kepada Tuan?”



    Berkata orang itu dengan suara yang menantang. “Kamu tidak berhak mencampuri urusan ini. Anak ini telah mencuri mangga di depan rumahku. Ia harus dihajar dan harus mengganti mangga yang telah dicurinya dengan ajaran”.



    Mendengar perkataan orang itu, Tamaqu berkata pula dengan lemah lembu tetapi tegas. “Tidak cocok orang seperti Tuan berlari-lari mengejar anak yang kecil seperti ini. lebih baik Tuan rundingkan atau laporkan hal itu kepada ayah kami. Dengan hal itu dapat diselesaikan dengan baik”.



    “Aku tidak berurusan dengan kamu. Aku juga tidak butuh nasihatmu. juga nasihat ayahmu. Serahkan anak itu kepadaku. Akan kuahajar dia sampai patah tangan dan lehernya”. Kata orang itu.

    Terkait:  9 Manfaat dan Cara Membuat Proposal PKM Kewirausahaan


    Mendengarnya perkataan yang kasar dan tidak mau berkompromi itu , Tamuqu menjadi marah. Ia berkata dengan suara yang keras : “Tuan tidak boleh berlaku sewenang-wenang di sini. Anak ini adik kami. Kalahkan dulu kami, barulah tuan boleh melampiaskan kebuasan Tuan kepada anak itu”.



    Orang itu tidak berani menghadap Tamuqu. Ia tahu keberanian dan ketangkasan Tamuqu dalam berkelahi. Mereka bukan pemuda yang lemah, tetapi pemuda yang berdaging batu, bertulang baja, dan berurat kawat. Mereka biasa menangkap kerbau di hutan tanpa memakai tali jerat. Kerbau liar mereka tangkap pada tanduknya, lalu dibanting ke tanah. Itulah olah raga mereka di hutan.



    Laki-laki itu berkata dengan kesal sambil mengancam. “Baik. Kalau demikian kamu membela adikmu yang mencuri mangga ku, tunggulah. Akan aku laporkan semua ini kepada Belanda. Kamu sekeluarga harus menanggung akibatnya”.


    Laki-laki itu pun pulang ke rumahnya. Keesokan harinya ia pergi ke kota Gorontalo, mengadukan peristiwa kemari. Belanda membela orang berdarah campuran itu. Belanda mengirim pasukan untuk menangkap Tamuqu dan Olabu.

    Rumah mereka dikepung dari semua arah. Ketika Tamuqu dan Olabu menyadari bahaya mengancam, mereka pun dengan segera mengambil badik dan keris.

    Seperti kucing, mereka melompat ke tanah. Pasukan Belanda segera mengerumuni mereka untuk menangkap.

    Sumber

    Artikel ini diambil dari Buku, Cerita Rakyat Kepalawanan Gorontalo. Oleh Dr. Nanti Tuloli – STIKIP GORONTALO – 1993.

    Next Part II

    Latest Posts

    Jangan Lewatkan