Kamis, Mei 19, 2022
BerandaArtikelHungguli Perantauan Polumoduyo Full

Hungguli Perantauan Polumoduyo Full

Karlotapost-Artikel- Hungguli Perantauan Polumoduyo Full. POLUMODUYO adalah anak sulung Raja Suwawa adiknya bernama Mooduto. Kerajaan Suwawa itu berada di satu daratan tinggi di Gorontalo yang bernama Bawangio.

Perantauan Polumoduyo
Ilustrasi  Foto : Pixabay.com

Tempat itu di huni oleh penduduk yang suka menanam tebu, rajanya adil. Dan memerintah rakyatnya dengan baik. Keadaan kerajaannya di liputi oleh kedamaian ketentraman dan keamanan mereka tidak mengenal permusuhan dengan kerajaan lain di Gorontalo.


Pada suatu ketika raja sudah ingin di ganti oleh salah seorang anaknya. Ia merasa sudah tua dan lemah tidak mau memutuskan sendiri siapa apa yang menjadi raja di antara. Polumoduyo dan Mooduto ia pun meminta pendapat seorang ahli yang bisa di beri gelar, Talenga.

Talenga itu bernama Pogambango. Pogambango mempunyai akal yang banyak iya juga di segani, karena mempunyai ilmu yang banyak pula. Ketika raja menanyakan kepada Pogambango, bagaimana cara memilih calon raja di antara kedua anaknya ia menjawab dengan segan.


” Maaf paduka raja saya tidak ingin menggurui raja, hanya menurut. Pendapat saya, kedua anak raja itu di suruh bertanding makan tebu depan rakyat. Kemudian rakyat akan menyatakan sendiri siapa yang paling mereka sukai” ucapnya,  mendengar nasehat Talenga.

Raja segera menyuruh penjaga istana, untuk membunyikan Gong. Rakyat berkumpul di depan istana untuk mengetahui apa maksud raja, mengumpulkan mereka. Mereka mengira akan ada serangan musuh, sehingga rakyat harus di kumpulkan. Setelah semua rakyat kerajaan itu berkumpul, raja pun segera mengemukakan maksudnya ia mengatakan.


” Wahai rakyat Bawangio saya ini sudah sangat tua, saya telah merasa lemah dan tidak sanggup lagi melakukan tugas sebagai raja. Oleh sebab itu saya mengharapkan agar kamu memilih salah seorang di antara kedua anakku ini, yang menjadi raja. Mereka suruh memakan tebu di hadapan kalian lalu terserah kepada kalian siapa yang paling kalian sukai” Ucap Raja Suwawa.

Polumoduyo dan Mooduto di suruh memakan tebu di hadapan rakyat. Polumoduyo makan tebu itu dari pangkalnya sampai ke ujung, dan semua tebu di habiskannya. Sedangkan Mooduto makan tebu dengan cara yang berlawanan dengan kakaknya.


Ia memulai dari ujung menuju ke pangkalnya. Sebelum habis tebu itu, ia pun berhenti makan. Sisa tebu yang paling manis itu, di serahkannya kepada seorang rakyat. Yang berdiri di depannya. aja kemudian menanyakan kepada rakyatnya ” siapakah yang kalian suka menjadi raja?” Tanya Raja Suwawa itu, dengan serentak rakyat datang menyembah kepada Mooduto.

hal ini menjadi tanda bahwa rakyat lebih suka kepada mooduto, maka Raja menyatakan di depan rakyatnya. “Mulai hari ini aku menyerahkan kerajaan ini kepada mooduto karena kalian lebih suka kepadanya” ungkap Raja.


Pesta perayaan Raja baru pun di adakan 40 hari, siang dan malam seluruh rakyat di beri makan oleh keluarga raja. Polumoduyo, ketika mengetahui bahwa ia tidak di pilih rakyat timbul rasa malunya dalam hatinya ia berkata.


” Kalau begitu aku tidak di sukai oleh rakyat di negeri ini, apakah yang tumbuh di negeri ini. Lebih baik aku pergi jauh.” Ucapnya dalam hati, pada malam pesta perayaan ke-7. Polumoduyo mau pergi meninggalkan istana dengan senyap Tidak seorangpun yang mengetahui kemana perginya.

Keesokan harinya keluarga Raja sangat kaget dan sedih, karena. Polumoduyo pergi tanpa pesan. Walaupun demikian pesta kegembiraan rakyat tetap di teruskan rakyat Tidak di beritahu tentang kepergian Polumoduyo.


Selama pemerintahan mooduto, rakyat makin giat bekerja di perkebunan. Mereka tidak hanya menanam tebu, tetapi juga padi jagung dan ubi kayu. Banyak penduduk dari kerajaan lain yang berpindah ke negeri itu. Karena tertarik dengan kemakmurannya makanan banyak tanah subur dan rakyatnya penuh pengabdian kepada rajanya.


Mereka sayang dan percaya kepada mooduto, pada suatu malam Raja memanggil Talenga Pogambango. Raja muda itu mengatakan bahwa ia sangat rindu kepada kakaknya ia memerintahkan kepada ada Pogambango untuk menyelidiki di mana Polumoduyo berada.

Ia ingin agar Polumoduyo pulang ke istana sehingga ia bisa memerintah kerajaan bersama-sama dengan kakaknya. Pogambango, yang mempunyai ilmu-ilmu ajaib itu memerintahkan hantu yang bernama PONGGO.


PONGGO dapat terbang kemana saja, setelah beberapa lama. Ponggo mengadakan penyelidikan di dapatinya, Pogambango  berada di 1 gubug bersama seorang kakek. Dia rajin membantu kakek itu bekerja di kebun tempat itu sangat jauh yaitu Bolaang Mongondow.


Pogambango segera melaporkan hal itu, kepada raja. Rajanya bersedih ia tidak mampu untuk memanggil pulang kakaknya. Si Polumoduyo setelah meninggalkan istana Bawangio, pergi ke arah timur. Ia berjalan siang dan malam tanpa henti, kalau perutnya lapar. Segera mengambil daun dan buah kayu di hutan. Karena telah menempuh jarak yang sangat jauh. Gunung gunung dan lembah, telah di laluinya. Pada akhirnya ia sampai di sebuah gubuk tua.

Di gubuk tua  tinggal seorang kakak, yang pekerjaannya berkebun. Polumoduyo meminta kepada kakek itu, untuk tinggal di gubuk. Tidak mengatakan dari mana dan siapa dia. Dia hanya mengatakan bahwa dia sedang merantau dan kakek  tersebut menerima.


Polumoduyo untuk tinggal bersamanya tiap hari mereka bekerja di kebun dekat hutan. Polumoduyo sangat rajin bekerja, kakek itu pun sangat sayang padanya. Mereka membuka lagi kebon baru di dalam hutan. Hasilnya sangat banyak tidak dapat di habiskan oleh mereka berdua. Tidak jauh dari tempat mereka itu ada suatu kerajaan kecil itu sering datang ke negeri tersebut.

Untuk menukarkan makanan dengan bahan lain, pada suatu ketika. Terdengar oleh kaki bahwa di negeri tersebut. Akan di adakan sayembara maksud dan tujuan saya itu adalah untuk memilih calon suami putri raja di negeri tersebut.


Dalam sayembara itu sang putri, akan di dudukkan di atas suatu balai yang tinggi. Di bawah balai tersebut, putra putra bangsawan dan pembesar kerajaan akan bermain raga. Siapa yang dapat menyebabkan raga itu hingga jauh ke pangkuan Putri.

Ialah yang akan di jadikan suami sang Putri berita tersebut di ceritakan oleh kakek kepada Polumoduyo. Dan Polumoduyo pun tertarik dengan sayembara tersebut, ia mengatakan maksudnya kepada kakek. ” Hai kakek bolehkah saya menonton sayembara itu” ucap Polumoduyo.


Kakek menjawab ” Boleh, tidak ada yang melarang orang menonton. Namun ku nasehatkan kepadamu agar jangan mendekat orang yang bermain raga itu. Mereka itu adalah anak pembesar kerajaan dan bangsawan di negeri ini” kata Kakek.

Polumoduyo pergi ke tempat orang bermain raga tersebut, ia memakai pakaian yang buruk, seperti pengemis. Mukanya sangat menjijikkan seperti muka ular belang, ia berdiri agak jauh dari orang yang bermain raga. Dia menonton dengan asyiknya tampak olehnya.

Pemain-pemain itu berusaha untuk menyapak, dengan sekuat tenaga, namun tidak ada yang bisa menyarangkan di pangkuan. Putri ada yang tidak sampai ada pula yang  lewat begitu saja.

Tidak bertahan lama  hati  Polumoduyo ingin menyepak. Raga itu ke pangkuan Putri, iya tidak lupa akan pesan kakeknya. Ia juga lupa bahwa ia hanya berpakaian yang buruk. Tidak tahu iya bahwa pakaiannya itu menimbulkan ejekan, dari orang yang sedang bermain raga tersebut. Selangkah demi selangkah ia menuju ke tempat sembara. Tanpa di sadarinya ia telah berada di gelanggang sayembara tersebut.


Tiba-tiba meluncurlah raga itu, ke arahnya dengan serta-merta keluarlah keahliannya. Bermain raga bola tersebut di permainkan nya beberapa kali, dari kaki kiri ke kanan dan sebaliknya. Lalu tiba-tiba ia melompat tinggi, Sambil menyepak raga itu. Dan alhasil raga itu pun meluncur ke arah balai sang putri. Jatuh tepat di pangkuan Putri. Sejenak penonton tertegun lalu kemudian bersorak karena kagum.

Pemuda-pemuda bangsawan itu berebutan mengaku sebagai pemenang, sedangkan. Polumoduyo mundur perlahan-lahan ke belakang ke tempatnya semula iya hanya melihat saja tingkah laku anak-anak bangsawan itu masing-masing mengatakan.


“Akulah yang menyepakan raga itu, ke pangkuan sang Putri.” Ucap anak bangsawan. Terjadilah kekacauan di tempat tersebut Tidak seorangpun, yang mengalah. Perkelahian pun terjadi mereka saling memukul, dan menendang. Dengan kacau tidak iketahui siapa lawan dan siapa kawan baku hantam itu makin seru.


Raja pun bertanya kepada putri, siapa sebenarnya yang telah menendang raga, ke pangkuanmu. Maka Putri pun berkata ” Tidak seorangpun di antara mereka itu, yang telah menyebabkan, Raga ke pangkuanku ini. Mereka tidak berhasil menyepakannya, laki-laki kecil. yang berdiri di sebelah sana, tulah yang telah berhasil menyepakan raga ke pangkuan ku. Ialah yang berhak menjadi suamiku.


” Kata Putri, mendengar pengakuan sang Putri terdiam lah semua bangsawan itu mereka memandang kepada Polumoduyo melihat wajah dan pakaian Polumoduyo yang buruk anak-anak bangsawan itu mengejek salah seorang berkata ” yang begini kah yang pantas mengawini Putri orang yang bermuka buruk seperti kulit ular pakaiannya pun compang-camping”.


Dengan kalimat ejekan, kemudian Raja berkata ” kalau benar dia yang telah menyepak raga hingga jatuh di pangkuanmu di alah yang akan di calonkan sebagai suamimu sebelum ia mengawinimu dengan harus dapat memenuhi beberapa syarat syarat.


Pertama ia harus mampu mengalahkan buaya yang besar di sungai kerajaan kalau syarat pertama dapat di laksanakannya dengan baik maka syarat kedua ia harus mengambil daun pencuci muka putri di seberang sungai dan daun itu harus di rebut dari raksasa garang penjaganya” ucap Raja ayahanda dari putri tersebut.

Sungai kerajaan itu sangat lebar dengan airnya yang mengalir deras di tengah sungai itu terdapat buaya besar sebagai penjaga sungai di seberangnya terdapat pohon Polohungo yang daunnya di pakai untuk mencuci muka atau memandikan gadis remaja pohon itu di jaga oleh seorang raksasa yang besar bermuka hitam dan berbulu badannya untuk sampai ke seberang sungai itu tidak di sediakan perahu.


Dipanggillah Polumoduyo ke depan Raja, dan ia berpura-pura tidak tahu adat menghadap iya berdiri saja ketika berada di depan raja-raja berkata silakan duduk anak muda siapa namamu dan dari mana asalmu.


Polumoduyo pun menjawab saya tidak mempunyai nama saya hanya perantau yang kebetulan lewat di tempat ini Raja berkata pula benarkah engkau yang menyebabkan raga itu ke pangkuan Putri? Polumoduyo menjawab benar wahai Raja saya melihat orang bermain raga lalu saya tertarik untuk bermain saya tidak sengaja menyepakkan raga itu kepangkuan Putri.


Oleh sebab itu maafkanlah saya, maka Raja pun berkata pula. Kalau demikian engkaulah yang akan aku calonkan menjadi suami sang Putri. Tetapi sebelum kawin engkau harus mengambil daun pencuci muka putri. Di seberang sungai kerajaan, sungai itu ada seekor buaya besar, sebagai penjaga nya. Engkau harus mampu mengalahkan nya pohon daun pencuci muka itu dijaga oleh seorang raksasa.


Polumoduyo pun menjawab, saya sebenarnya tidak berkeinginan menjadi suami sang Putri. Tetapi kalau diminta oleh raja saya bersedia, mengambil daun pencuci muka, di seberang sungai itu. Saya akan mencobanya mudah-mudahan saya,akan mendapat kekuatan untuk melawan buaya dan raksasa itu.


Raja dengan segera memerintahkan pengawal untuk memukul gong rakyat pun berkumpul tua-muda besar kecil laki-laki perempuan datang ke depan istana.


Raja lalu mengumumkan rakyatku pada hari ini seorang pemuda perantau akan berusaha mengambil daun pencuci muka di seberang sungai untuk itulah aku mengumpulkan kamu semua agar kita dapat menyaksikan kehebatan pemuda ini menghadapi buaya penjaga sungai dan raksasa penjaga pohon itu adalah POLOHUNGO.

RELATED ARTICLES

Most Popular