Posted inArtikel

Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu Part Akhir

KARLOTAPOS-Artikel- Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu sambungan, setelah mereka di hajar habis habisan oleh tentara Belanda, tidak ada rasa sakit sedikit pun yang dirasakan oleh Tamuqu Dan Olabu.

Mereka hanya tersenyum manis dengan perlakuan para tentara tersebut, tidak merasa puas para tentara Belanda ini memasukkan nya ke dalam penjara, disitulah terjadi suatu keajaiban, pintu penjara menjadi sangat sempit hingga mereka tidak bisa masuk.

Cerita Perang Tamuqu Dan Olabu
Ilustrasi Foto: Pixabay

Sedangkan rantai yang terbuat dari besi sangat kuat, yang mengikat kaki dan tangan mereka berdua putus, sebenarnya Tamuqu juga Olabu bisa melawan para pasukan pengawal penjara tersebut.

Tetapi mengingat rakyat akan disiksa oleh pasukan Belanda dengan terpaksa hal itu mereka lakukan, ayah Tamuqu dan Olabu mengingatka agar aji mantra mereka dilepas, setelah melepaskan aji mantra itu barulah pintu penjara yang sebelumnya sempit kembali normal dan terbuka lebar.

Tidak berlangsung lama dipenjara di Gorontalo Tamuqu Dan Olabu merencanakan untuk mengadakan perlawanan terhadap para Pengawal, dengan mengajak para tawanan lainnya.

Mereka berpura-pura mengikuti instruksi dari pasukan pengawal penjara, dan keinginan itu diketahui oleh pengawal dan sesegera mungkin Pemerintah Belanda berusaha untuk mengasingkan dua orang bersaudara itu dari rakyat Gorontalo.

Pada hari yang sudah ditentukan mereka mulai di bawah menuju pelabuhan Kwandang, sesampainya ke tujuan sudah tersedia sebuah buah yang akan digunakan untuk membawa mereka ke pulau Jawa.

Saat Tamuqu mulai dinaikan ke atas kapal besar itu, berderaklah besi-besi kapal tersebut, seperti mau putus. Demikian giliran Olabu yang dinaikkan, kapal mulai miring, dan hampir saja tenggelam.

Kapten berserta awak kapal mulai keheranan dengan kejadian tersebut, mereka menyadari bahwa kedua tahanan itu mempunyai ilmu yang sangat sakti, hendak mau berangkat, dibawah terik matahari. Kapten memerintahkan untuk menarik dan menaikkan jangkar kapal.

Disitu terjadi satu keajaiban yang hampir menenggelamkan kapal yang mereka naikin, jangkar tidak biasa dinaikkan seolah-olah menyangkut di batu karang yang cukup keras, dan kapal pun menjadi menjadi tidak seimbang.

Atas inside itu kapten bertanya kepada anak buahnya apa penyebab hal ini bisa terjadi, salah seorang anak buahnya berkata penyebabnya adalah dua orang tahan yang mereka bawa belum mendapatkan restu dari orangtuanya.

Mendengar hal itu sang kapten mengutus anak buahnya untuk menjemput ayah. Tamuqu Dan Olabu, dengan sikap acuh tak acuh ayahnya naik, terasa lagi kapal itu oleng seperti dilanda ombak yang besar. Ia dibawa kepada kapten kapal.

Sang kapten membujuk ayah Tamuqu dan Olabu agar merestui anaknya untuk di bawa ke pulau Jawa, demikian sang ayah mengijinkan anaknya, namun tidak ada tampka kesedihan terlihat dimata mereka.

Kemudian ayahnya berkata ” Lepaskanlah aji mantra, dan berangkatlah kalian ke negeri asing jangan mengharapkan kita akan bertemu lagi, semua kesusahan harus dihadapi dengan tabah, kalau bukan di dunia kita akan bertemu di akhirat, kalian berdua adalah pendekar para rakyat kecil ” ucap sang ayah.

Mendengar anjuran itu mereka segera mencium tangan ayahnya dan serentak melepaskan aji mantra sakti yang dipakai, kapal pun menjadi normal kembali, dan berangkat tanpa ada halangan dan hambatan.

Ayah mereka melambaikan kedua tangannya sebagai tanda perpisahan, dari kedua belah pihak itu tidak ada satu pun yang mengeluarkan air mata, perpisahan yang entah kapan bertemu kembali, tidak menyenangkan mereka menjadi cengeng.

Dalam perjalanan mereka menuju pulau Jawa, banyak sekali siksaan yang mereka alami, dikurang dalam kamar berdekatan dengan mesin kapal dan ruangannya pun sangat panas, berhari-hari tidak diberi makan dan minum.

Menurut cerita setelah tiba di pulau Jawa mereka dipenjarakan lagi, karena adanya kekhawatiran dari pemerintah Belanda, dan akhirnya mereka kembali di bulan ke Aceh. Setelah berada di Aceh tidak terdengar lagi berita dari kedua pendekar itu TAMUQU ADA OLABU.

Sumber

Artikel ini diambil dari Buku, Cerita Rakyat Kepalawanan Gorontalo. Oleh Dr. Nanti Tuloli – STIKIP GORONTALO – 1993

Sumber